Kepastian Yang Ditunggu Telah Datang [1/2]
Tepat sehari setelah tulisan terakhirku dibuat, kepastian itu mendatangi kami. Kabar kepergian bapak tidak terlalu mengagetkan, tapi tetap menjadi kejutan. Kejutan yang kurang menyenangkan, yang seketika meluluhlantakkan. Seperti yang aku katakan, bukan tidak terima dengan keadaan. Dengan ini, aku hanya ingin menyimpan memori ini agar tidak hilang dan membiarkannya menjadi kenangan. Karena, begitu menyenangkan mengingat kehadiran bapak hingga saat ini. Tidak ada yang tertinggal atau yang disesali, hanya doa serta syukur saja yang terus aku panjatkan.
*** Kembali ke tanggal 25 Agustus 2025 ***
Saat dalam hatiku berkecamuk perasaan khawatir, tapi tidak dapat aku tampakkan di hadapan bapak. Akhirnya pada hari itu aku hanya bisa duduk di samping bapak dan kutumpahkan perasaanku lewat tulisan.
Pada hari itu, hari ke-5 bapak di-opname dengan perawatan intensif sejak jadwal hemodialisanya gagal karena irama jantungnya melemah dan tidak beraturan. Kami kira tidak butuh waktu lama perawatan di rumah sakit, karena kondisi bapak tidak tampak terlalu mengkhawatirkan. Selama 2 malam berada di IGD, kami jadi seringkali menyaksikan 'kepergian' orang lain, terlebih bed yang ditempati bapak berada di triase merah. Kami, yang menunggu, kadang malah khwatir ke mental bapak -padahal kami juga yang ketakutan- tapi, malah bapak yang bilang, "Kita harus terbiasa dengan ini". Entah, ini pesan supaya kami bersiap-siap atau hanya ucapan biasa yang pada tempatnya.
Dalam perawatan kali ini, yang dikejar adalah meningkatkan irama jantung sesuai dengan batas tertentu sebagai prosedur pelaksanaan hemodialisa. Sayangnya, hingga hari ke-5 ini kondisi bapak tidak menunjukkan peningkatan. Padahal hari ini dijadwalkan hemodialisa di ruang ICU karena harus dipasang peralatan lainnya sebagai penunjang. Bapak yang sudah mengetahui kabarnya sejak malam, semakin tidak sabar ketika waktu terus berlalu, tetapi tidak kunjung ada pergerakan. Aku ke rumah sakit selesai mengajar, bergantian dengan kakakku. Sebelumnya telah dikabari bahwa bapak sudah masuk ICU, hanya saja masih dilakukan pemantauan. Melihat kondisi bapak di ruangan itu, perasaan sedihku tidak tergambarkan lagi dengan kata-kata. Rasanya ingin langsung menangis.
Ketika aku datang, bapak langsung mengadu bahwa ia yakin dirinya mampu menjalani hemodialisa dengan kondisinya sekarang. Saat bicara suaranya pelan dan cenderung lemah. Tapi mata, intonasi, dan gesturnya mengatakan jelas penuh dengan emosi. Menggebu-gebu. Mungkin kecewa. Monitor juga menunjukkan peningkatan detak jantung yang tiba-tiba, lalu turun jauh lagi. Aku berusaha menenangkan bapak agar tidak gegabah, mempercayainya pada tenaga medis yang bertugas, serta memperbanyak doa dan dzikir supaya hati bapak lebih tenang.
Beberapa kali perawat masuk untuk mengecek kondisi yang terpantau pada monitor. Setiap itu juga bapak berkata hal yang sama. Begitu juga aku mengingatkan hal yang sama,
"sabar aja, pak.",
"yang sabar, ya.. pak.",
"udah.. sabar dulu."
Aku berusaha memvalidasi perasaannya, tapi tidak bisa dipungkiri, sabar adalah satu-satunya kunci saat ini. Beberapa kali aku buka obrolan untuk mengalihkan emosi bapak sampai aku izin untuk sholat ashar ke masjid. Sebelum aku tinggal, aku siapkan playlist berisi nasihat singkat tentang sakit dari Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Ustadz Nuzul Dzikri, Ustadz Khalid Basalamah, dan lainnya.
Aku tinggalkan bapak sambil kuperdengarkan kajiannya.
Tangisku sudah pasti pecah setelah tidak bersama bapak. Doaku sangat jelas. Berikan bapak kesabaran, berikan bapak kesembuhan, ampuni dosaku dan kedua orang tuaku.
Rasanya masih ingin berlama-lama dengan kesedihanku. Rasanya belum puas dengan luapan emosiku. Tapi aku juga ingin segera kembali bersama bapak. Kuatur nafas sebelum kembali menemui bapak, ekspresi wajah sudah diatur setenang mungkin, baru aku masuk ke ruang ICU.
Disana, bapak melihatku masuk, sebelumnya hanya diam melihat ke langit-langit ruangan. Lalu, obrolan dibuka lagi dan bapak mulai melembut. Aku ingat sekali caranya bicara terasa sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Berubah seketika. Sambil menanggapi obrolannya, aku juga menahan tangis. Bapak juga sesekali menyeka ujung matanya. Aku tidak ingat persis obrolannya seperti apa, tapi intinya seperti ini:
Bapak sekarang udah ikhlas, de. Bapak terima apapun takdir bapak. Bapak cuma gak mau ngerepotin kalian. Udah, gak usah mikirin bapak. Kalian kerja, kerja aja. Yang penting dd doain bapak terus.
Bapak masih saja perhatian kepada kami. Itu sebabnya aku mau dilihat bapak baik-baik saja supaya tidak ada lagi kekhawatiran pada diri bapak terhadap kami. Aku berusaha tenang di luar, padahal BADAI DI DALAM (˃̣̣̥ᯅ˂̣̣̥)
Ucapannya membuat hatiku tenang, tapi tetap terasa gundah. Sore itu, bapak akhirnya tidak bisa untuk hemodialisa lagi setelah kurang lebih 6 jam dipantau di ICU. Saat akan kembali ke ruangan perawatan intensif, bapak melontarkan candaan terhadap perawat laki-laki yang menjemputnya karena perannya yang luar biasa menenami bapak buang air besar. Bapak terkekeh, kami pun tersenyum.
Sekembalinya bapak ke ruang perawatan, aku tinggalkan sebentar untuk menghubungi kakak tertuaku. Aku mengabarkan kondisi bapak hari ini. Karena jadwal kakakku yang akan dinas ke luar kota pada hari Rabu (keesokan lusa) sempat menggantung karena ini, mendengar kabar ini aku yakinkan ia untuk berangkat saja. Aku artikan keikhlasan bapak saat itu pertanda kondisinya membaik. Aku ceritakan juga obrolan kami selama di ruang ICU dan candaannya yang juga menyenangkan. Selesai kuakhiri panggilan dengan kakakku, aku kembali lagi ke bapak dan pamit untuk pulang. Aku pulang dengan perasaan yang sedikit lega.
Komentar
Posting Komentar