Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Idealis jangan Egois

Proses kehidupan menuju pendewasaan itu terjadi pada masing - masing orang dengan cara berbeda. Kadang caranya menyakitkan, penuh dengan kepahitan. Atau dengan keterpaksaan. Yang beruntung, mungkin melaluinya pada kesempatan yang tepat, tapi tetap, merasakan sakitnya jatuh bangun sehingga membuatnya bangkit dengan dirinya yang berbeda. Melalui dinamisnya kehidupan, memberikan cara pandang yang juga berbeda pada masing - masing orang. Berusaha berdiri pada kakinya sendiri, mempertahankan pemahaman yang dimilikinya. Ya, kadang memang baik memiliki pendirian. Tidak terpengaruh. Tidak mudah goyah. Tapi ingat.. kita hidup tidak hanya untuk hari ini. Tidak hidup hanya untuk diri sendiri. Jangan sampai yang kamu sebut Idealis  merubahmu menjadi Egois . Jika berulang kali telah jatuh karena mempertahankan keidealisanmu, ketahui dirimu, kapan harus kamu turunkan ego dan membuka diri untuk suatu hal yang baru.  Jadilah seorang yang Idealis , tapi tetaplah  Realistis .

Keluarga yang Utama

Mengajar terasa seperti di rumah sendiri. Jarang mungkin sekolah yang miliki rasa seperti ini. Benar-benar terasa di rumah karena sekolah saya mengajar, memang konsep sekolahnya sangatlah  homey . Bangunannya benar-benar dalam bentuk rumah pribadi, dengan tambahan permainan outdoor dan garasi rumah yang dijadikan area bermain indoor.  Desain ruangan belajarnya juga tidak kaku seperti sekolah konvensional yang kelasnya terbatas oleh dinding, tetapi semacam konsep desain  open-space, tempat belajar berpusat di ruangan tengah, dari pintu masuk hanya dibatasi partisi sebagai batas orang tua mengantar dan menjemput. Ke belakangnya adalah ruang makan dengan peralatan yang disesuaikan ukuran anak dan jendela-jendela besar yang terhubung ke taman belakang, kantor guru, dan dapur. Di lantai 2 untuk kelas dan kamar Batita (Bayi di bawah usia tiga tahun), penataan ruangnya sama, ruang belajar dengan jendela-jendela besar sebagai pembatas dengan ruang makan. Tidak ada seragam sehari...

(Untitled)

Gambar
Menjadi seorang guru yang mendampingi anak-anak usia dini memberikan pengalaman yang luar biasa. Bagaimana tidak? Setiap harinya pasti ada saja tingkah mereka yang membuat emosi saya bergejolak naik turun. Haahahahha. Mungkin rasanya sama saja ya dengan guru lain yang mengajar di jenjang sekolah yang lebih tinggi, sama - sama menghadapi anak - anak muridnya, dengan 1001 atau bahkan lebih tingkah laku yang unik dan sulit digambarkan oleh kata-kata. Tapi pasti ada rasa yang beda dengan menangani anak - anak, atau ya.. anggaplah ini hanya sudut pandang saya saja.  Anak - anak ini, yang mana masih belum pada usia yang memiliki penalaran cukup matang. Sehingga, semua yang dilakukannya mungkin secara spontan dan tanpa perhitungan. Ngga sampai tuh terpikir konsekuensi yang akan datang, sebab-akibat setelahnya apa, dan lain sebagainya. Jadi udah makanan sehari-hari deh yang ngademin anak nangis, berantem, ngambek, dan segala rentetan dramanya. Qadarullah.. Allah pe...

Cerita Kepergian Farhan

12 Oktober 2019 . Masih lekat sekali di ingatanku, waktu ku lihat seorang Ayah berjalan memimpin di depan rombongan yang mengikutinya sambil membawa buah hati tercintanya. Menerima jabatan tangan dari orang-orang yang menunggu di sepanjang jalan itu sambil memberi sekulum senyum dari bibirnya. Aku tidak tahu senyumnya mewakili perasaan yang mana, entah lega, bahagia, ataupun duka.  Lega, melihat anaknya sudah melepas semua kesakitannya Bahagia, telah menyelesaikan salah satu tugasnya di dunia Duka, karna itu akan jadi kali terakhir dia mengantarkan kepergian anaknya, untuk kembali ke pangkuan Sang Ilahi.  Menyaksikan itu semua tidak ada kata yang dapat terucap, selain tangis yang seketika meluap. Dengan keranda di bahu - bahu mereka tidak ada yang bisa di perbuat, selain doa yang terus dipanjat. Yang mereka bawa itu adalah seseorang yang pernah menghiasi hari-hariku dulu, dia adalah salah satu muridku. Seorang anak yang pemalu, dengan senyum tersipu. Si Penja...