Setahun Kemudian
Aku tidak tahu kemana tulisan ini akan mengarah. Sudah lama ingin menumpahkan semua isi hati dan pikiran, tapi nanti-nanti dulu.. tiba-tiba sudah setahun kemudian.
Tulisan ini dibuat di pertengahan malam dengan diiringi hujan yang menyejukkan -bagiku- yang bisa dibilang awet sejak turun dari satu hari yang lalu. Ketikan tengah malam ini bukan karena aku insomnia, bukan juga iseng belaka. Aku terbangun karena panggilan mamah yang seolah jadi alarm tanda darurat. Meski diucapkan selembut mungkin, aku sudah tahu apa yang terjadi. Bapak sedang merasa tidak baik-baik saja. Itu yang pasti, hanya seberapa parahnya saja yang jadi tebak-tebakan sampai aku datang dan lihat sendiri ke kamar bapak.
Setiap malam seperti ini datang, kesegaran ketika bangun tidur dan tingkat kesadaran mendadak dipaksakan mencapai 100%. Gak ada 'ngulet', duduk-duduk dulu -ngumpulin nyawa katanya-, ba..bi..bu.. tanya ini itu, gak ada..! Langsung jalan ke kamar bapak. Begitu udah lihat kondisi bapak baru bisa menentukan seberapa level keteganganku akan terasa.
Alhamdulillah sepanjang tahun 2024 gak ada yang dar der dor banget, tapi memang Allah sayang banget sama umatnya. Mungkin kita lupa setitik, dikasih lagi ujiannya biar bisa ingat kembali. Kusebut Mid-Year Exam, semacam ujian tengah semester di sekolah emang. Karena kalau diinget-inget emang tiap pertengahan tahun, kok ya, ada aja..
Kurang lebih garis besar cerita di 2024 seperti ini:
Terasa ada benjolan di dada, awalnya masih cuma dioles-oles minyak aja. Terus, ada lah dikompres irisan bawang putih segala. Sudah pasti tidak pengaruh dong. Akhirnya memutuskan untuk cek ke dokter.
Hasilnya adalah tumor dada. Kalau pada perempuan, ya semacam tumor payudara. Untuk tahu gimana pertumbuhannya, ganas atau jinak, perlu operasi.
Selesai operasi. Kasusnya sama lagi. Recalling memory ke tahun sebelumnya waktu pasang CDL, perdarahan gak berhenti. Perban udah ganti berkali-kali. Sampe akhirnya ditambah jahitan lagi.
Jadi.. ya begitulah kehebohan di 2024. Bertepatan dengan bapak dirawat itu, gak disangka bisa ketemu sama temen SMA yang ibunya juga lagi dirawat di ICU. Dari cerita-cerita itu, pada akhirnya ada yang masih bisa disyukuri dengan kondisi bapak saat itu.
Singkat cerita, bapak bisa pulang duluan dari RS. Qadarullah.. baru sehari di rumah, balik lagi kita ke IGD sekitar jam 10 malam. Ngurusin lagi masuk ke ranap. Malam itu, kayanya bapak ga ditungguin. Aku dan kakakku pulang. Pas di lift, cerita-cerita bercanda kalau udah bilang ke temenku "pulang duluan, ya" pas bapak keluar RS. Terus lagi ngebayangin nih kalau pas keluar lift, ketemu sama temenku ini lagi nungguin di kursi kantin, obrolan apa yang akan terjadi.
*ting* pintu lift kebuka. Lah iya, itu dia. Bener lagi duduk kan disitu. Tapi, sebentar.. kubilang. Kaya lagi panik kebingungan, terus gak lama dateng 2 orang, bapak-bapak dan ibu-ibu. Langsung meluk dia. Tangisnya langsung pecah. Gak lama dateng suaminya sambil sibuk cek handphone. Ibunya meninggal. Setelah lama kami gak bertemu, lalu pertemuan pertamanya lagi di tempat itu, dengan kondisi yang kurang membahagiakan. Akhirnya aku peluk dia, aku juga sedikit bisa rasakan kesedihannya. Aku selalu membayangkan kalau aku yang ada di posisi dia, seperti apa ya aku?
Semenjak bapak sakit ini, aku juga sambil terus mempersiapkan diri. Membayangkan ketika hari itu tiba, apa yang perlu aku lakukan, akan seperti apa nanti rasanya aku belum tahu. Karena di tiap-tiap malam yang kondisi bapak lagi menurun, pasti pikirannya udah kemana-mana. Waktu tuh terasa lama banget. Jadi dalam hati selalu muncul pertanyaaan "Kuat gak ya bapak?"
Komentar
Posting Komentar