Ramadhan yang Penuh Kesyukuran
Sore ini.. sore terakhir di bulan Ramadhan. Alhamdulillah telah sampai di garis akhir tapi juga bersedih karena harus berpisah. Salah satu doa yang terus dipanjatkan oleh umat muslim lainnya, dan juga aku, pastinya meminta kepada Allah Ta'ala untuk dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Untuk mendapatkan limpahan pahala dan memperbaiki segala kekurangan di Ramadhan yang ini. Ramadhan tahun ini bisa dibilang Spesial.. Istimewa.. terasa berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.. Tentunya, banyak kesyukuran didalamnya. Bukan menjadi penghalang untuk terus beribadah selama Ramadhan, justru jadi pecut bagi kita untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melaluinya.
Ya.. seperti yang kita semua tahu, kita sedang berada dalam kondisi penularan dari wabah Covid-19 yang nyata ada di sekitar kita. Dengan kondisi yang mengharuskan kita di rumah saja, memberikan berbagai macam perasaan bagi kita yang menjalankannya. Kita terbiasa menyambut Ramadhan dengan suka cita dan berbondong-bondong memenuhi Masjid, melakukan sholat berjama'ah, saling berbagi makanan berbuka puasa bersama dengan saudara-saudara muslim, mengikuti berbagai macam kajian, menyibukan diri dengan Al Quran, bahkan pada 10 malam terakhir rela meninggalkan waktu-waktu istirahat hanya untuk berdiam diri di Masjid dan menyibukan diri dengan beribadah kepada Allah Ta'ala, berdzikir, berdoa memohon ampunan Allah Ta'ala demi merasakan keistimewaan Lailatul Qadar.
Tapi..
Ramadhan tahun ini.. tidak ada lagi keramaian di masjid-masjid seperti biasanya. Yang kita lihat justru masjid-masjid sepi, tidak ada aktivitas, pintu-pintu masjid tertutup, dan bahkan terdapat larangan untuk berkumpul melakukan ibadah di Masjid. Sedih.. pasti. Tapi, selalu ada hikmah dari setiap takdir yang sudah Allah Ta'ala tentukan. Jika tidak karena Allah Ta'ala yang menakdirkan ini semua, mungkin orang-orang tidak merasakan nikmatnya beribadah bersama dengan keluarga. Yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sibuk dengan urusannya, jarang berkomunikasi dengan keluarganya meski dalam satu rumah yang sama, kini berubah menjadi kehangatan yang pasti terasa berbeda.
Hal yang sama terjadi di rumahku.. semenjak ada himbauan untuk tetap berada di rumah saja dan beraktivitas dari rumah, satu hal yang pasti lebih rajin dilakukan adalah sholat berjama'ah. Ya. Yang biasanya Bapak pergi ke Masjid saat waktu sholat, mengharuskannya sholat di rumah. Kesempatan ini menjadikan kami dapat melakukan jama'ah di rumah. Apalagi ketika tiba bulan Ramadhan.. semua aktivitas ibadah yang biasa dilakukan selama Ramadhan dilakukan bersama-sama di rumah selama 30 hari ini. Sholat fardhu, sholat taraweh berjama'ah, dan pada 10 malam terakhir juga tetap menghidupkan malam-malam itu bersama hingga waktu subuh tiba. Pasti ada hikmah yang berbeda-beda yang dirasakan setiap orang dalam menjalani Ramadhan tahun ini.
Dengan kondisi saat ini seharusnya menjadikan Ramadhan kali ini menjadi sangat bermakna. Kesempatan bagi kita untuk memperbanyak do'a di dalamnya, selain meminta keselamatan bagi kita di dunia dan di akhirat nanti, do'a lainnya yang dianjurkan dalam kondisi ini adalah memohon sebanyak-banyaknya kepada Allah Ta'ala agar segera mengangkat wabah ini dari muka bumi. Hitungan manusia yang sangat hati-hati memperlihatkan bahwa kita mungkin akan terus seperti ini hingga akhir tahun nanti. Tapi, jika Allah Ta'ala berkehendak.. bisa saja wabah ini segera berakhir. Ini menjadi bukti bahwa manusia memang pada akhirnya hanya bergantung kepada takdir Allah Ta'ala saja setelah segala daya dan upaya dilakukan. Kita do'akan saja semoga Tenaga Medis dapat diberikan balasan yang setimpal dengan amal perbuatannya. Tentunya apapun yang kita berikan mungkin belum dapat senilai dengan segala perjuangan mereka, berbeda dengan balasan yang Allah Ta'ala berikan adalah yang paling adil.
Kini..
Kumandang takbir sudah terdengar dari masjid-masjid, begitu juga dari rumah kami. Suara Bapak bergetar melantunkan takbir, sambil menahan isak tangis agar tidak meluap. Bahkan hingga mengimami sholat isya terdengar sekuat tenaga melanjutkan bacaan sholatnya dengan sempurna. Kesedihan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Tidak terasa Ramadhan sudah akan pergi. Sementara diri ini masih terasa hina dengan dosa. Merasa malu di hadapanNya, seolah tangis dan doa tidak cukup. Wahai diri... apa yang membuatmu istimewa diantara umat manusia lainnya yang terus menerus beribadah tak kenal lelah meminta ridhoNya. Saat kamu sadar bahwa dosa-dosamu menghinakanmu, lalu mengapa masih bisa kamu lalai..? Padahal segala amalan tergantung pada penutupnya, pun tidak kamu maksimalkan di akhiran tersebut. Penyesalan saja yang tersisa padamu. Sudah.. Ramadhan sudah mau pergi.. bersungguh-sungguhlah jika memang kamu menyesal, lakukanlah yang terbaik sampai nanti kamu dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya. Semoga Allah Ta'ala mengijinkan.
Aamiin.
30 Ramadhan 1441 H/23 Mei 2020 M
19.57 WIB
Komentar
Posting Komentar