Kenyataan Pahit
Tidak bisa kita saling bertatap, hanya sanggup berbalas sapa
Tidak mampu lisan terucap, lewat tulisan kita saling bicara
Bukan karena enggan bertemu, bukan karena kendala waktu
Entah kapan ini akan berakhir.. aku berdoa, semoga hingga nanti ini semua berakhir, kita masih dapat bertahan dan dapat berjumpa lagi bersama-sama.
Jum'at, 27 Maret 2020. Hari kesekian Pandemi Corona melanda Indonesia. Bukan semakin baik, pasien terjangkit positif Corona semakin tinggi. Sejak diumumkan 2 pasien pertama pada awal bulan ini, hingga kini, sudah mencapai angka ribuan. Kurva terus meningkat, sedangkan pemberitaan tentang penanganan wabah ini seolah mencekik kita dengan kenyataan pahit. Ya.. kenyataan bahwa Sekolah kami juga tidak mungkin untuk dibuka. Bukan hanya untuk satu pekan, atau dua pekan lagi. Tapi hingga dua bulan ke depan.
Kenyataan bahwa kami masih belum bisa saling bertemu, belum bisa bertemu anak-anak untuk melepas rindu. Pekan lalu saja sudah cukup berat, dengan memutuskan untuk mulai belajar dari rumah. Akhirnya dengan saling bertegur sapa lewat rekaman suara, panggilan video dalam grup, sudah sangat senang. Meskipun rindu semakin jadi. Pekan ini, ternyata lebih berat lagi.. karena saat ini harus sangat realistis, sehingga sulit jika ingin menolaknya.
Kekhawatiran menjadi semakin nyata. Keputusan terberat harus diyakini. Bahwa kami tidak bisa selamanya bertahan bersama-sama melewati ini semua. Keputusan untuk saling ditinggalkan dan meninggalkan siap dihadapi. Meskipun tidak ada yang mudah dengan semua ini, tapi hanya ini yang terbaik untuk kami semua. Saat teleconference-meeting, semua menangis dalam diam dari balik gawai masing-masing. Bukan karna malu saling menangisi, tapi berusaha saling menguatkan satu sama lain, sebisa mungkin meringankan beban yang ada.
Dan... tibalah hari ini. Semoga ini hanya perpisahan sementara kami, yang akan segera pulih saat semua ini membaik.
Saat salam perpisahan satu persatu mulai disampaikan.. kesedihan terasa berlipat-lipat. Sedih ditinggalkan, pasti. Ditambah, sedih karena tidak ada perpisahan yang layak, sedih karena tidak ada raga yang saling berpeluk. Hanya saling balas dalam group chat, memberi do'a terbaik, dan melepas kepergiannya dengan ucapan
"Fii Amanillah... Semoga Allah Ta'ala menghendaki pertemuan kita kembali♥️♥️"
Secepatnya.
-An-
Komentar
Posting Komentar