Cerita Kepergian Farhan
12 Oktober 2019. Masih lekat sekali di ingatanku, waktu ku lihat seorang Ayah berjalan memimpin di depan rombongan yang mengikutinya sambil membawa buah hati tercintanya. Menerima jabatan tangan dari orang-orang yang menunggu di sepanjang jalan itu sambil memberi sekulum senyum dari bibirnya. Aku tidak tahu senyumnya mewakili perasaan yang mana, entah lega, bahagia, ataupun duka.
Lega, melihat anaknya sudah melepas semua kesakitannya
Bahagia, telah menyelesaikan salah satu tugasnya di dunia
Duka, karna itu akan jadi kali terakhir dia mengantarkan kepergian anaknya, untuk kembali ke pangkuan Sang Ilahi.
Menyaksikan itu semua tidak ada kata yang dapat terucap, selain tangis yang seketika meluap. Dengan keranda di bahu - bahu mereka tidak ada yang bisa di perbuat, selain doa yang terus dipanjat. Yang mereka bawa itu adalah seseorang yang pernah menghiasi hari-hariku dulu, dia adalah salah satu muridku.
Seorang anak yang pemalu, dengan senyum tersipu.
Si Penjaga Gawang rupawan, yang jadi jagoan lapangan.
Perpisahan pertama kami sungguh bahagia, meski ada tangis yang mengiringinya. Dia sudah menjadi seorang siswa Sekolah Dasar. Meskipun masih ada waktu bertemu kembali, tapi bagi kami, sudah tidak ada kesempatan lagi.
Hingga akhirnya, Allah pertemukan lagi oleh Perpisahan kedua kami.
Perpisahan itu bernama Kematian. Takdir yang sudah ditentukan. Tiada yang tahu siapa yang pergi duluan. Kita hanya tinggal tunggu giliran. Kulihat Ayah dan Ibunya, sungguh ketegaran dan kesabarannya sangat luar biasa. Ibunya bercerita, sewaktu melihat kesakitannya, sebagai orang tua hanya bisa meminta kepada Allah agar sakitnya mereda dan ijinkan mereka yang menanggung sakit tersebut. Tapi Allah memberi yang lebih, Allah hilangkan sakitnya untuk selama-lamanya.
Kering sudah air mata, cukup lama anak itu menderita. Akan lebih indah melepasnya dengan keikhlasan♥️ F.M
Komentar
Posting Komentar