Aku Memang Tidak Dijamin Surga


Aku memang tidak dijamin surga
Tidak seperti Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, manusia yang Allah cintai.
Tidak seperti para Sahabat radhiyallahu 'anhum, yang syahid di medan perang.
Atau wanita-wanita ahli surga seperti Maryam, Fatimah, Khadijah atau Asiyah.

Aku hanya bercita-cita mendapatkan surga kelak
Yang aku tau.. mendapatkan surga itu tidaklah mudah. Meskipun aku belum sempurna, setidaknya aku mencoba.
Seperti halnya mengikuti ujian, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan sebaik mungkin berdasarkan pedoman yang dimiliki. Begitu juga menghadapi akhir kehidupan ini, perlu banyak persiapan untuk mendapatkan tempat terbaik seperti yang telah dijanjikan oleh Allah dan RasulNya. Pedomannya? Ada. Yaitu Al Qurān dan Hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan ijma' para sahabat.

Dengan tulisanku ini bukan berarti aku memiliki banyak ilmu dan merasa paling benar. Aku hanya ingin menyampaikan kegelisahanku ketika sedang marak unggahan dan komentar - komentar jahat -menurutku- yang bertopik agama. Selama ini, aku memilih banyak diam dan beristighfar, berusaha mengingkari dalam hati. Karena lisanku belum mampu untuk mengingkarinya. Ilmuku tidak mumpuni. Mungkin berbeda dengan beberapa orang yang berani berpendapat, tapi aku tidak bisa bilang mereka juga sepenuhnya benar, tapi tidak bisa juga menyalahkan.

Bukan berarti saat orang lain mengingatkan tentang agama, merasa yakin 100% akan ada di surga. Tapi perlu diyakini bahwa itu ajaran yang benar yang dibawa oleh manusia yang paling benar, manusia yang ma'shum (terjaga dari dosa). Perihal diterima atau tidaknya, itu memang hak kalian yang diingatkan. Karena hidayah itu datang dari Allah. Tidak ada hak manusia untuk memaksakan. Namun, jika tidak menerima nasihatnya, maka jangan benci ajarannya, jangan benci agamanya. Manusia memang terkadang terlalu mengedepankan nafsu, sehingga lupa dengan siapa dia bertemu. Ada kata yang harus ditata, ada hati yang harus dijaga. 

Semua perlu dilakukan sesuai dengan Hikmah.

Disampaikan di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, pada orang yang tepat, dan juga oleh orang yang tepat. Tapi saat ini orang-orang seperti menutup mata, dan tidak bisa melihat kebenaran yang sebenarnya. Sehingga ulama / 'alim yang benar, bersumber dari dalil yang in syaa allah shahih, menjadi bahan olokan yang dipertontonkan. Miris kulihat. Asatidz, sunnah-sunnah Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, agama islam dijadikan bahan olokan yang diperjual belikan. 
Akibat dari banyaknya orang yang merasa berilmu dan menyampaikan ajaran islam secara serampangan, tidak memperhatikan adab dan tidak mengedepankan Hikmah -- ya ini hanya anggapanku. 

Ketika orang yang benar - benar paham mengingatkan mereka, dibilangnya "emang surga punya lu doang."

Komentar