Sebuah Utas
Ketika melihat unggahan teman atau orang lain di media sosial terus jadi baper karena miris, bahannya adalah sesuatu yang ngga layak untuk jadi bercandaan. Maka jadilah sebuah utas
***
Banyak orang berpesan, "Ngga usah ngurusin orang deh. Kaya udh bener aja" dilanjut dengan ejekan dan makian yang tak berkesudahan
Tapi yang komen kaya gitu, sadar ngga dia lagi ngapain.
Biasanya orang yang komennya kaya gitu, merasa tidak sependapat. Mungkin maksud hati mau menjaga kerukunan, tapi malah jadi mempertontonkan perpecahan
Perbedaan pasti ada, tapi sudah jadi sunnatullah. Tinggal tugas kita mengikuti mana yang sesuai ajaran Islam atau ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang tidak sesuai dari ajaran Islam, tinggalkan.
Karena ilmu yang berlandaskan Qurān dan Sunnah itu ngga akan habis zamannya. Seumur hidup itu sumber petunjuk hidup kita. Ilmu pengetahuan dan penemuan modern yang datang setelahnya adalah pembuktian dan gagasan pendukungnya
***
Suka kepikiran kiamat ngga sih?
Kebayang ngga siapa aja yang bakal ngerasain?
Apa aja ya yang harus disiapin supaya bisa ngelewatin hari pembangkitan setelahnya?
Udah cukup belum ya bekelnya?
Suka tiba-tiba dateng pikiran itu. Tapi masih aja suka males-malesan. Aku. Yakin siap?
***
Aku ngga setuju dengan adanya demo atau aksi yang dilabeli dengan kata 'damai' sekalipun, tapi bukan berarti setuju dengan kedzoliman yang terjadi
Karena sesuai dengan ajaran Rasulullah, tidak ada cara yang lebih baik selain menasihati dan berdoa kepada Sang Pemilik Hati
Aku bermuamalah dengan teman yang tidak seiman denganku, tapi bukan berarti aku bermudah-mudahan dengan agamaku
Karena aqidah bukan bercandaan.
Agama islam itu sederhana, tidak perlu ditambah-tambahkan, apalagi dikurangi.
Islam itu pertengahan. Tidak berlebihan dalam beragama, dan Tidak kurang juga hingga menyepelekan. Beribadah sesuai dengan yang telah Allah perintahkan, mengikuti apa yang Rasulullah contohkan
@anitaRmd, 7-10-2019
Komentar
Posting Komentar