Cerita Kepergian Haura
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari jum’at. (karena) pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari jum’at.” (HR. Muslim)
sore itu, tepat di hari jumat (1/4), aku dikagetkan dengan kabar
yang tak diduga-duga yaitu kabar duka tentang kepergian salah satu murid di
tempatku dulu mengajar. pasalnya, baru siang harinya guru-guru pergi
menjenguknya di rumah sakit, memang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri di
ruang rawat icu semenjak hari kemarinnya ia masuk rumah sakit. anak perempuan
yang semasa hidupnya tidak menjadi anak yang terlalu menonjol diantara
teman-temannya, bahkan termasuk anak yang jarang bicara tapi selalu tergurat
senyum di bibirnya.
ketika itu sekitar pukul 19.30 di rumah duka, kedatangan
jenazah dengan ditemani kedua orang tua dan kerabatnya disambut dengan tangisan
yang tumpah ruah seketika itu juga. raut kesedihan tampak dari setiap wajah
yang hadir disana. saat itu, ku dengar dari ibunya bahwa ia begitu
semangat untuk ikut kegiatan lomba yang akan diikuti sekolah tepat keesokan
harinya. tapi takdir berkata lain. allah lebih menyayanginya. dengan kesedihan
yang menjadi kita harus mengikhlaskannya karena ia juga terlihat begitu
ikhlas. keikhlasannya dapat dilihat langsung dari senyumannya. iya. senyumnya
yang masih tergurat di bibirnya bahkan di tidur panjangnya. husnul khotimah in syaa allah.
hal yang paling tak kusangka adalah kesalihannya. rupanya ia benar-benar orang yang tulus. ya memang seperti itu yang namanya
anak-anak. mereka masih belum tau mana yang benar dan yang salah, itulah
tugasnya orang dewasa agar anak dapat berbuat hal yang benar.
singkat cerita, pada satu waktu orang tua diundang untuk
hadir parenting di sekolah. ibunya yang biasanya tidak menutup rambutnya dengan
kerudung, saat itu mendapat pujian dari guru-guru di sekolah “wah bun.. cantik
banget ih pake kerudung. udah begini terus dong.” meskipun hanya sekedar
menyampirkan sehelai selendang saja tetapi setidaknya sudah menjadi pertanda
yang baik agar dapat terus dilanjutkan. rupanya ia meminta ibunya untuk
memakai kerudung ketika keesokan harinya akan mengunjungi sekolahnya karena ia
malu. malu? anak itu bahkan bisa merasakan malu hanya dengan keadaan ibunya
yang tidak memakai kerudung. yang aku tau anak-anak masih benar-benar polos
bahkan malu pun jarang dapat dirasakannya.
karena kepergiannya membuat aku jadi sadar betapa mulianya pekerjaanku kelak. beruntunglah kita yang menjadi guru adalah pernah menggoreskan kebaikan dalam masa perkembangan anak. meski tidak banyak dan tidak terlihat tapi hal itu luar biasa bagi anak. anak yang kita didik menjadi tabungan amal untuk kita. hebat bukan. jadi jangan pernah mengeluhkan pekerjaanmu sebagai guru. terus tebar ilmumu perbaikilah generasi kita sedini mungkin karena kelak dia yang akan kamu banggakan dan dia juga yang bisa menolongmu untuk tidak merasakan neraka. kelak, anak-anak muridmu yang kau didik dengan benar yang akan ikut menarikmu ke surganya allah. mending merasakan punya tabungan dunia atau tabungan akhirat? kalau terus memperkaya diri di dunia tapi ga jelas juntrungannya dan tujuannya, mending terus memperkaya untuk akhirat tapi jelas tujuan dan manfaatnya.
Komentar
Posting Komentar